Disamping memiliki obyek wisata sawah, Desa Wisata Guliang Kangin juga memiliki wisata spiritual malukat di Pancoran Solas. Pancoran ini terletak di sisi timur desa wisata, di aliran sungai melangit, berbatasan dengan Pura Tirta Harum Satria Tamanbali, dan Bakas Levi Rafting. Pancoran Solas, jumlahnya 11 buah pancoran. 1 Pancoran di atas, untuk keperluan upacara, sedangkan 10 pancoran di bawah, untuk keperluan malukat, membantu proses penyembuhan atau pembersihan sekala - niskala. 10 Pancoran melambangkan dasa aksara ( Sa Ba Ta I Na Ma Si Wa Ya ), yang bersemayam di seluruh tubuh manusia, sehingga pembersihan terhadap dasa aksara akan membersihkan kekotoran di pikiran dan tubuh manusia.
Dari sudut legenda lahirnya Desa Guliang Kangin, berawal dari mengungsinya raja Gelgel generasi VI, yang bernama Dalem Dimade, akibat Pembrontakan mahapatih Gusti Agung Maruti. Awalnya beliau menetap di desa blahpane. Setelah beberapa lama tinggal disana kesehatan beliau semakin menurun, sampai suatu saat beliau pindah ke Desa Tambangwilah (Desa Guliang Kangin sekarang), dan setelah melewati proses upacara salah satunya mandi di Pancoran Solas. Semenjak itu beliau merasa lebih tenang dan nyaman dalam pengungsian, akhirnya beliau memugar dan memberi nama pancoran tersebut sebagai pancoran solas. Setelah lama beliau mandi di pancoran tersebut, akhirnya beliau merasa sehat, sampai belai menamakan Desa Tambangwilah sebagai Desa Guliang, yang berasal dari kata Guh (menyebabkan) dan Liang (senang/nyaman), sehingga sampai sekarang bernama Desa Guliang.
Saat ini Pancoran Solas telah mendapatkan bantuan penataan dari Kementerian PUPR lewat Satker Balai Sungai Bali - Penida, sehingga pemedek akan merasakan kenyamanan di saat malukat.
I NENGAH BUDIARTA
06 November 2024 05:39:28
Tamanbali yg transparan ...